Pertanyaan :
Halo dokter Dito. Saya mau tanya, keluarga saya kalau tidur
dengkurnya kencang, terkadang bisa membangunkan dirinya sendiri. Saya pernah
menyarankan untuk tidur miring tapi dia masih juga mendengkur, mau posisi
seperti apapun. Dia itu pekerja keras, banyak mikir and juga sering kurang
tidur. Sekitar 2-3 tahun lalu dia tidak mendengkur, hanya beberapa tahun ini
karena dia menggemuk dan tidak olahraga dia jadi mendengkur keras.
Dokter ada solusi apa untuknya? Seperti olahraga seperti apa
yang bagus untuk menghilangkan dengkur atau solusi yang lainnya? Terimakasih.
Chii, perempuan, 19 tahun, belum menikah, 168 cm, 74 kg,
Jawaban:
Hai Dik Chii…. Dito ikut bersimpati dan berempati dengan
gangguan yang dialami oleh keluargamu. Dari petunjuk inti yang dik Chii
kemukakan, yaitu: kalau tidur dengkurnya kencang, sering kurang tidur,
menggemuk, tidak olahraga, maka ada kemungkinan dia menderita gangguan tidur
yang disebut obstructive sleep apnea (OSA). Oh iya, cobalah dik Chii bertanya
kepadanya berapa nilai tekanan darahnya. Umumnya penderita OSA itu juga
menderita tekanan darah tinggi (hipertensi). Tapi, tidak semuanya, lho…
Solusinya, mudah dan relatif sederhana, kok:
1.Segeralah ke dokter terdekat, untuk memastikan diagnosis.
Sebab OSA itu perlu ditegakkan diagnosisnya melalui laboratorium tidur (sleep
laboratory) dengan menggunakan alat canggih yang disebut polysomnography.
2. Bila benar diagnosisnya OSA, maka dokter akan memberikan
terapi continuous positive airway pressure.
3. Pilihan lain yang dapat direkomendasikan oleh dokter
spesialis THT adalah operasi (yang disebut uvulopalatopharyngoplasty) atau
adenotonsillectomy untuk anak-anak dengan OSA.
4. Perawatan dan pemeliharaan gigi, salah satunya dengan rajin
gosok gigi, minimal sebelum-setelah tidur dan setiap setelah makan. Bila memang
diperlukan, maka dokter gigi akan merekomendasikan dental appliance.
5. Pada anak-anak yang menderita OSA, dokter dapat memberikan
obat golongan kortikosteroid topikal intranasal. Pemberian oksigen suplemental
haruslah dievaluasi pada anak-anak dengan OSA untuk menghindari terjadinya
hipoventilasi. Pada penderita dewasa, dokter boleh saja merekomendasikan
protriptyline sesuai indikasi.
6. Turunkan / kurangi berat badan. Misalnya: dengan mengurangi
konsumsi makanan berlemak, menghindari konsumsi junk-food serta makanan
berpengawet.
7. Setahu kami, belum ada riset tentang olahraga apa saja yang
terbaik untuk penderita OSA. Namun, berolahraga secara teratur, misalnya:
senam, berenang, jogging, pernafasan, nggowes (bersepeda), baik untuk mengatasi
gangguan tidur, salah satunya OSA.
8. Beristirahat secara teratur.
9. Pelatihan perilaku (behavioral training) yang didukung oleh
keluarga (family support).
Semua upaya di atas tentunya akan lebih efektif bila diikuti
berperilaku hidup S3 (sehat, serasi, seimbang), serta harmonisasi antara pikiran,
manajemen hati, serta peningkatan spiritualitas (upaya pendekatan diri kepada
Allah, berderma-beribadah dalam arti luas).
Demikian penjelasan ini, semoga bermanfaat.
Salam SEHAT!
Dokter Dito Anurogo
Konsultan Netsains.net

Tidak ada komentar:
Posting Komentar